BEM-PM Udayana Logo

PARUM PARAM UDAYANA

s__6725965

Halo Insan Muda Kampus! Halo para Ksatria!

Kebudayaan dan tradisi merupakan identitas kita sebagai warga Negara Indonesia. Tugas kita sebagai masyarakat muda untuk melestarikan budaya leluhur yang diwariskan turun temurun. Dewasa ini, banyak masyarakat muda yang merupakan agen perubahan (agent of change) mulai melupakan tradisi mereka. Bahkan di Bali sendiri, tanpa disadari banyak budaya Bali mulai punah yang dimana mulai jarang dapat kita temui.

Continue Reading No Comments

ARTIKEL PALEBON

Wisata Budaya

Palebon pada Puri Saren Ubud

PALEBONPLBN

            Puri Saren Ubud merupakan istana kerajaan Ubud yang sangat indah dengan tetap memertahankan rumah-rumah tradisional yang menjadi lokasi kediaman Raja Ubud. Puri Saren Ubud ini berada di Jalan Utama Ubud, Gianyar, Provinsi Bali. Puri Saren Ubud berjarak 22 km dari Kota Denpasar Bali sehingga hanya dalam waktu 35 menit perjalanan akan tiba di tempat wisata ini. Ritual sakral puri yang paling menarik dan menjadi objek wisata adalah ritual pelebon/kremasi (pembakaran mayat) keluarga Puri Saren Ubud, Gianyar – Bali yang selalu terkesan mewah dan melibatkan ribuan masyarakat. Tanggal 8 Mei 2016 lalu merupakan acara puncak dari ritual pelebon Cokorda Putra Widura yang menderita asma akut. Beliau merupakan salah satu cucu tertua dari Penglingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Agung Suyasa.

Ratusan karangan bunga pun terpasang di depan Puri Agung, Ubud, Gianyar. Sebelum acara puncak, telah melewati berbagai upacara sakral diantaranya: upacara Nanceb, Nuasen lan Negtegan Karya yang bermakna memilih hari yang baik untuk mempersiapkan seluruh keperluan upacara agar segala hal bisa berjalan lancar, tanpa adanya halangan baik secara sekala maupun niskala. Upacara Ngingsirang Layon (memindahkan jenazah) dari ruangan tempat beliau disemayamkan di Gedong (yang merupakan ruangan tertutup) ke Bale Gede (bangunan terbuka). Selanjutnya diadakan Upacara Mendak ke Pura Dalem Puri lan Pura Dalem Ubud memohon ke hadapan Sang Hyang Widhi yang berstana di Pura Dalem seandainya atma (roh) yang meninggal masih dalam genggaman beliau agar bisa dibebaskan untuk bisa diupacarai. Tak lupa diadakan upacara lainnya seperti Upacara Ngreka Kajang (kawitan yang didapat dari pedanda dihias dengan berbagai macam bunga, uang kepeng, dan kwangen berwujud manusia serta ditaburkan minyak wangi dan bunga harum) di Pamerajan Agung (pura besar). Serta Upacara Ngening Ring Beji (mengambil air suci) di sungai Campuhan dan Upacara Nyiramin Layon (memandikan layon atau jenazah) diupacarai/disucikandulu sebelum diusung ke setra (kuburan).

Bade (menara kremasi) dengan tinggi 21 meter berbobot lima-enam ton dengan komposisi 5 gunung, tumpang 9, dan Lembu (tempat untuk membakar jenazah) tersebut mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara yang berada disekitaran Ubud.

Apalagi, keberadaan Puri (tempat tinggal bangsawan/keluarga raja) yang masih ada saat ini menjadi fenomena menarik untuk dipelajari. Kuatnya pembagian triwangsa atau “kasta” masih dipegang oleh masyarakat Hindu Bali, menjadikan “puri” menjadi panutan masyarakat dalam melakukan ajaran agama Hindu. Perlu diketahui, bahwa kalangan puri yang banyak ditempati wangsa ksatria yang merupakan kasta tinggi dalam masyarakat Hindu Bali sangatlah dihormati. Seluruh keluarga puri akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa kepada mendiang. Namun ada yang berbeda dari upacara palebon di Puri Saren Ubud saat itu. Tidak adanya ‘Naga Banda’ yang merupakan salah satu komponen dalam palebon. Menurut penuturan salah satu penglingsir Krama Desa Ubud hal tersebut dikarenakan mendiang Cokorda Putra Widura selama hidupnya belum pernah menjabat di pemerintahan.

Sekitar pukul 12.50 WITA, bade dan lembu beserta perlengkapan upacara lainnya diusung beramai-ramai menuju setra Dalem Puri dari Puri Saren Kauh Ubud sejauh 800 meter. Karena betapa besar dan mewahnya bade, maka sepanjang perjalanan jaringan kabel listrik disterilkan/dimatikan. Hal ini sudah dikonfirmasi pihak puri dengan pihak PLN setempat. Pengusungan ini dilaksanakan secara estafet oleh beberapa kelompok dan akan digantikan oleh kelompok lainnya. Setiap kelompok terdiri dari sekitar 300-400 orang yang kaan melakukan estafet tiap 300 meter. Pergantian pengusung secara estafet ini merupakan lambang dari kerjasama dan peran-serta seluruh lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai banjar di Ubud. Di setiap pertigaan atau perempatan jalan, bade akan diputar sebanyak tiga kali dengan maksud agaratma (roh) mendiang tidak kembali ke tempat semula.

Continue Reading No Comments

ARTIKEL PERANG PANDAN

PERANG PANDAN

(MEKARE – KARE)

 perang pandan

Bali adalah sebuah pulau yang kental dengan ragam budaya disetiap daerahnya. Salah satu daerah di Bali yang mempunyai keberagaman budaya adalah Kabupaten Karangasem.

Karangasem mempunyai sebuah desa yang masih kental akan adat istiadatnya atau desa bali aga, yaitu bali asli, desa tersebut adalah desa Tenganan, yang terletak di kecamatan Manggis, Karangasem. Di tenganan, mempunyai sebuah tradisi yang cukup unik, yaitu tradisi perang pandan atau sering disebut mekare-kare.

Mekare-kare dilaksanakan pada sasih kelima dalam kalender Bali, yang jatuh pada Bulan Juni. Mekare-kare di lakukan oleh para lelaki di desa tenganan, baik anak kecil, remaja, dewasa maupun tua.

Tradisi mekare-kare ini dilaksanakan dalam 2 hari, tetapi pada tahun 2016 ini, puncaknya tepat jatuh pada hari raya saraswati, yaitu hari turunnya ilmu pengetahuan. Upacara ini berlangsung kira” selama 3 jam. Yang dimulai dari jam 2 siang. Mekare-kare dilakukan di depan bale patemu atau balai pertemuan, dengan menggunakan alat yaitu pandan berduri yang diikat menyerupai gada dan tameng sebagai perlindungan yang terbuat dari rotan yang dianyam. Para pria yang ikut dalam perang pandan, memakai kain tenun gringsing, pria hanya menggunakan sarung atau disebut kamen, selendang atau disebut saput, dan ikat kepala atau udeng. Pria tersebut tidak mengenakan baju alias bertelanjang dada

Sebelum dilaksanakan mekare-kare ini, para perempuan desa merias wajah mereka dan merias rambut menggunakan bunga mas serta menggunakan busana kain gringsing, yaitu kain asli daerah tenganan. Setelah berias para gadis, serta warga desa tenganan, melakukan prosesi mecaru yaitu membersihkan desa dari hal negatif dengan mengelilingi desa sebanyk 3 kali. Setelah mengelilingi desa, para pria berkumpul di depan balai petemu, kemudian dilanjutkan ritual minum tuak bersama. Sisa-sisa tuak kemudian di kumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Perang dilakukan berpasangan yaitu sejumlah dua orang. Peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri pada peserta lainnya selama 2 menit lalu bergantian dengan pasangan lain. Meskipun tubuhnya berdarah, pada peserta tetap terlihat senang karena hal itu adalah salah satu ungkapan syukur mereka dan cara menghormati Dewa Indra. Setelah perang selesai peserta yang terluka diolesi ramuan tradisional khas adat tenganan. Acara selanjutnya setelah perang usai adalah melakukan sembahyang di pura. Meskipun peserta terluka tetapi tidak ada dendam di antara peserta. Hal tersebut disimbolkan dengan makan bersama yang menunjukkan kebersamaan. Acara tersebut dinamakan megibung. Megibung inilah sebagai penutup upacara mekare-kare.

Continue Reading No Comments

ARTIKEL WISATA BUDAYA

“PESTA KESENIAN BALI XXXVIII”

Taman Werdhi Budaya Art Center

Denpasar, 11 Juni 2016

pkb

Pulau Bali merupakan tujuan wisata favorit tidak saja di Indonesia, tapi seluruh dunia. Sebagai daerah tujuan wisata, Bali konsisten menempatkan sektor pariwisata sebagai sektor andalan. Pengembangan industri pariwisata di Bali secara umum menerapkan konsep pariwisata budaya, yang secara implisit memasukkan misi menumbuh suburkan kebudayaan Bali dalam setiap kegiatan pengembangannya. Untuk lebih mengembangkan industri kebudayaan Bali, maka pada tahun 1979, gubernur Bali ke-6 yaitu almarhum Ida Bagus Mantra menggagas dan memprakarsai suatu wadah pesta rakyat yang di namakan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang mendapat pergelaran perdana nya pada 20 Juni 1979 sampai 23 Agustus 1979 memakan waktu kurang lebih 2 bulan.

PKB merupakan acara yang diselenggarakan secara annually. Karena acara ini bertujuan untuk mempromosikan Bali sekaligus mengantarkan bagaimana wajah kebudayaan Bali di mata dunia kedepannya, maka penyelenggaraan PKB selalu memberikan kesempatan penampilan yang terbaik dan tema yang beragam setiap tahunnya. Kini PKB sudah terhitung 38 kali diselenggarakan dengan jumlah pengunjung yang berfluktuasi. Pada 5 tahun terakhir konsep PKB ditetapkan yakni Panca Mahabhuta yang setiap tahunnya secara bergilir dijabarkan bagian-bagian dari 5 unsur pembentuk alam semesta ini seperti Pertiwi, Apah, Bayu, Teja dan Akasa. Dan pada tahun ini Pertiwi-lah yang menjadi konsep diselenggarakannya PKB ke-38 dengan mengusung tema Karang Awak. Karang Awak berarti Mencintai Tanah Kelahiran, di mana pada pelaksanaan kali ini memberikan makna yang sangat mendalam dalam membangun dan meningkatkan kualitas diri aagar dapat menggerakkan roda kehidupan untuk menghadapi persaingan yang semakin komplek dalam tatanan yang harmonis dan saling menghargai di tengah derasnya pengaruh informasi yang tanpa sekat, dan kemajuan teknologi di setiap kehidupan masyarakat. dengan ini Karang Awak akan menjadi sebuah tonggak bersama bagi para seniman kita untuk selalu mengisi diri sehingga akan melahirkan karya seni yang inovatif dalam rangka menambah keragaman seni budaya Bali.

Pembukaan PKB kali ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Arief Yahya selaku Menteri Pariwisata. Presiden dikatakan selalu membuka PKB karena begitu besarnya acara yang melibatkan 9 kabupaten kota yang ada di Bali. PKB diawali dengan pergelaran pawai yang bertempat di Depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB) Provinsi Bali pada pukul 14.00 WITA. Pelepasan pawai ditandai pemukulan kulkul oleh Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, kemudian disambut dengan Tabuh Ketug Bumi persembahan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sekaligus sebagai pengiring Tari Siwa Nataraja yang merupakan tari pelepasan Pawai Pembukaan PKB ke-38. Selanjutnya pawai disusul dari penampilan duta kabupaten atau kota, yang pertama menggencarkan aksinya adalah kabupaten Buleleng dengan persembahan Bhuhlila Denbukit atau Pemberi Kebahagiaan Sejati yang melibatkan 300 orang seniman. Berikutnya dari kabupaten Karangasem yang menampilkan bernagai ragam keunikan seni dan budaya didukung 350 orang seniman. Penampilan ketiga adalah kabupaten Jembrana dengan fragmentari asal usul Jembrana, disusul kemudian oleh kabupaten Bangli yang mengangkat desa tradisional Penglipuran sebagai tema, sementara kabupaten Klungkung mengaktualisasikan Karang Awak ke dalam sebuah garapan berjudul Mahawira Jayanti. Tabanan melibatkan sedikitnya 250 orang seniman, Kota Denpasar menapilkan tari dengan maskot sekar jempiring daerahnya, dan Gianyar menampilkan garapan karya seni bertajuk Arya Bebed. Sementara penampilan dari luar daerah datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT), India, Perancis, Timor Leste. Kemudian disusul dari Kabupaten Badung dengan fragmentari dengan judul Jong Jayegrat dan ditutup dengan marching band Universitas Udayana Denpasar.

Pawai sendiri dimulai dari ujung jalan Ir. Juanda, tanpa melakukan atraksi di depan panggung kehormatan. Acara pembukaan PKB ke-38 dilaksanakan di Gedung Ardha Candra Taman Budaya Denpasar, yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Anies Baswedan. Acara pembukaan dimeriahkan dengan pergelaran Oratorium dengan judul Markandya Bumi Sudha oleh Institut Seni Indonesia Denpasar.

 

Continue Reading No Comments

Selaras Karya Nyata

untuk Udayana Berintegritas

Hubungi Kami

Award 2013

Universitas Udayana

Kampus Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali, Indonesia

Award 2011

BEM-PM Universitas Udayana

Jln Dr. Goris No. 10, Student Center Lt. 2 Denpasar Bali (80234)