Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Menuju Kesadaran Budi Nurani

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Menuju Kesadaran Budi Nurani

Oleh : Dewangga Selangga

(Presiden Mahasiswa Universitas Udayana )

Pancasila

Trisila: Sosio-Nasionalis,Sosio-Demokratis,Ketuhanan Yang Maha Esa

Ekasila:Gotong-royong

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Eka Sila

(P.J.M Dr.Ir Soekarno)

Pancasila sebagai idiologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan salah satu mahakarya The Founding Father Bung Karno, yang telah mengalami pengendapan selama beberapa dekade. Apabila dipahami secara mendalam, pancasila merupakan suatu titik keseimbangan antara ilmu dan amal, antara nasionalisme dan internasionalisme, antara asas demokrasi dan musyawarah mufakat serta antara pembangunan dan keadilan sosial yang pada intinya berlandaskan semangat gotong royong.

Pancasila memiliki karakteristik sebagai idiologi nasional, karena merupakan suatu cara pandang atau metode bagi Bangsa Indonesia dalam mencapai tujuannya yaitu masyarakat adil dan makmur. Nilai – nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan idiologi kebangsaan, karena digali dan dirumuskan untuk kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 menyebutkan, “Philosofische gronslag”.

  • Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.(Soekarno)

Para pendiri Negara Republik Indonesia  sepakat bahwa, pancasila merupakan konsensus nasional, karena negera indonesia sebuah desain negara modern. Pancasila merupakan hukum manual bangsa karena digali dari nilai – nilai bangsa dalam upaya menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Sehingga unsur perekat yang universal dari nilai pancasila tersebut adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Apabila masyarakat telah memahami ketuhanan yang universal itu, maka mereka akan menghormati keberagaman, karena pada dasarnya manusia diciptakan sama. Itulah entitas sebagai manusia beradab dan bijaksana dalam upaya mencapai tujuan bangsa.

Mengapa memilih Idiologi Pancasila?

Indonesia merupakan negara yang beragam, kehidupan masyarakatnya diwarnai oleh beragam suku bangsa, adat-istiadat, hingga berbagai macam agama dan aliran kepercayaan. Beberapa keberagaman tersebut hidup rukun dalam bingkai gotong royong. Dengan kondisi sosiokultur yang heterogen tersebut dibutuhkan idiologi yang universal tetapi dapat mengayomi seluruh bangsa. Idiologi itulah yang disebut Pancasila.

Apabila dipahami secara mendalam,ideologi merupakan kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh destutt de trascky pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominan kepada seluruh anggota masyarakat (definisi ideologi Marxisme). (Sulaimanzen ,Januari 25, 2008).

The Founding Father Bung Karno telah menggali kembali nilai – nilai yang sesuai dengan jati diri Bangsa Indonesia, yang beliau telah sampaikan pada Pidato 1 Juni 1945, yang pada intinya beliau menjelaskan kepada Dokuritu Zyunbi Tyoosakai yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yakni “Philosofische grondslag” dari pada Indonesia merdeka.

Beliau kembali menggali nilai – nilai tersebut dengan mengintisarikan palsafah hidup yang dimiliki bangsa Indonesia dalam bentuk sebuah manifestasi sederhana dari suatu idiologi. Pancasila yang sebelumnya beliau sebut sebagai Panca Darma yang terdiri dari kebangsaan, internasionalisme, musyawarah mufakat, kesejahteraan sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa, beliau sederhanakan menjadi Tri Sila. Tri Sila inilah yang merupakan perasan yang terdiri dari sosio-nasionalis,sosio-demokratis dan Ketuhanan Yang Maha Esa yang berlandaskan Eka Sila yaitu gotong royong. Secara sederhana beliau menyimpulkan bahwa gotong royonglah yang menjadi ciri khas bangsa indonesia yang berlandaskan kepedulian sosial ( Sosialisme Ala Indonesia ).

Sitiran Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 menyebutkan Nationalestaat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri dijaman Sri Wijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara:

  • Yang pertamaKebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat.
  • Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah filosofisch principe yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan „i n t e r n a s i o n a l i m e”.
  • Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan.
  • Priinsip No. 4 sekarang saya usulkan, Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan , prinsip : tidak akan ada kemiskinan  di dalam  Indonesia  Merdeka.
  • Prinsip yang kelima hendaknya :  Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Apabila dipahami secara mendalam, kelima prinsip tersebut mengisyaratkan kita kepada nilai – nilai dasar jati diri bangsa yang telah lama menjadi pedoman kehidupan. Nasionalisme atau kebangsan itu timbul karena adanya rasa kebersamaan dan saling memiliki sehingga diperlukan internasionalisme atau perikemanusiaan untuk melengkapi itu semua. Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme.

Kemudian perlu dipahami bahwa negara Indonesia bukan negara untuk satu golongan, negara Indonesia bukan untuk satu bangsawan, tetapi negara Indonesia itu adalah negara untuk semua Bangsa Indonesia.”semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu”(P.J.M Dr.Ir. Soekarno). Untuk memahami keindonesiaan kita memerlukan musyawarah untuk suatu mufakat yang berlandaskan akan kepercayaan terhadap  Ketuhanan Yang Maha Esa.

Seorang filsuf yang bernama Gramsci menjelaskan, bahwa ideologi tidak bisa dinilai dari kebenaran atau kesalahannya, tetapi harus dinilai dari berhasil atau tidaknya dia menjadi suatu kontrak sosial yang mengikat berbagai kelompok sosial yang berbeda-beda ke dalam satu entitas dalam hal ini bernama negara dan bangsa. Lalu bagaimana dengan Pancasila?.

Kesadaran Berbangsa

Proses reformasi selama beberapa tahun belakangan ini merupakan suatu kesempatan emas untuk merevitalisasi semangat dan cita – cita para pendiri bangsa dalam mewujudkan Pancasila. Namun kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal, sehingga timbul pembiasan makna sebenarnya dari intisari Pancasila tersebut.Bahkan dalam proses reformasi selain sejumlah keberhasilan yang ada, terutama dalam bidang politik juga muncul pandangan berupa melemahnya kesadaran hidup berbangsa.

Semenjak Orba ditumbangkan oleh gerakan reformasi, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia telah kehilangan tempatnya dalam kehidupan masyarakat. Seakan –akan masyarakat phobia dan alergi untuk mengakui Pancasila apalagi mencoba untuk memahaminya. Meskipun negara ini masih menjaga suatu konsensus dengan menyatakan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Namun secara faktual, agaknya kita harus mempertanyakannya kembali. Karena saat ini debat tentang masih relevan atau tidaknya Pancasila dijadikan ideologi masih kerap terjadi. Apalagi ditengah kegalauan dan kegagalan negara-bangsa menapak dengan tegak jalur sejarahnya sehingga selalu jatuh bangun dan labil. Pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang diakui di negeri ini, sempat menjadi semangat perjuangan dan pemikiran setiap warga negara Indonesia.

Banyak gerakan separatisme terjadi pada masyarakat, tidak diindahkannya konsensus nasional, korupsi, dan munculnya kelompok-kelompok yang mempromosikan secara terbuka ideologi di luar Pancasila. Karena tidak ada satu pun ideologi yang disusun dengan begitu sempurnanya sehingga cukup lengkap dan bersifat abadi untuk semua zaman, kondisi, dan situasi. Setiap ideologi memerlukan hadirnya proses dialektika agar ia dapat mengembangkan dirinya dan tetap adaptif dengan perkembangan yang terjadi.

Era reformasi menyadarkan bahwa di satu sisi Pancasila telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari ancaman disintegrasi selama lebih dari tiga dasawarsa, namun sebaliknya sakralisasi dan penggunaan berlebihan dari ideologi negara dalam format politik Orde Baru juga membuahkan hasil. Pancasila seakan – akan dimistiskan tanpa memahami suatu nilai yang terkandung di dalammnya. Dalam memahami pancasila dan dapat merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, memerlukan kesadaran melebihi kesadarn jasmaniah yaitu kesadaran budi nurani. Apakah kesadaran budi nurani itu?. Bagaimana merevitalisasi nilai – nilai pancasila dalam upaya menuju kesadaran budi nurani?.

Tahap Kesadaran

Kesadaran memiliki tingkatan yang beragam sesuai dengan proses yang dialami oleh manusia. Kesadaran yang paling sederhana adalah kesadaran jasad. Kesadaran jasad adalah kesadaran tingkat dasar yang terjadi pada manusia. Kesadaran paling dasar ini terjadi pada bayi yang baru lahir di dunia. Namun demikian kesadaran jasad berikut ubo rampe naluri ini masih setara dengan kesadaran yang dimiliki binatang. Misalnya  induk binatang yang menyusui anaknya hingga usia tertentu kemudian induknya menyapih. Itu semua bukan berasal dari kesadaran akal-budi melainkan berdasarkan kesadaran jasad saja. Kesadaran naluri tidak diperlukan proses belajar karena naluri akan berkembang secara alamiah dengan sendirinya tanpa perlu pendidikan nalar atau akal-budi.

Setingkat lebih tinggi dari kesadaran jasad adalah kesadran akal budi atau rasio. Kesadaran akal budi berkaitan erat dengan proses pembelajaran dan sosialisasi ( pendidikan ). Contoh real bisa kita lihat dari seorang bayi yang akan belajar memanggil nama ibunya pada usia tertentu. Maka dapat disimpulkan kesadaran akal-budi merupakan kegiatan  ilmiah yang melibatkan pengolahan data-data. Pada tahap ini upaya manusia mengungkap tabir misteri hukum alam sudah lebih maju karena menggunakan kemampuan rasio atau akal budinya. Selanjutnya kesadaran akal-budi dibagi menjadi dua yakni kesadaran dengan metode penalaran rasio (rasionalisme) dan pembuktian secara empiris (empirisisme).

Suatu pengharapan dari kesadaran adalah bagaimana nilai – nilai pancasila dapat dibumikan guna menuju kesadaran akal budi ( budi nurani ) yang berlandaskan rasio bukan sekedar kesadaran jasmaniah ( jasad ). Sehingga Pancasila tidak dipahami sebagai suatu simbul yang dihormati karena dimistiskan (disakralkan), tetapi nilai – nilai yang terkandung didalamnya benar – benar dipahami. Dalam hal ini masyarakat dapat menempatkan pancasila sebagai  pondasi – pondasi atau landasan bemasyarakat, sehingga nilai – nilai tersebut tetap terjaga pada ruang – ruang kehidupan. Suasana desa dengan kehidupan sosiokulturnya yang masih mengedapankan musyawarah mufakat masih dapat kita lihat. Kemudian toleransi antar umat, persatuan, nasionalisme, dan keadilan sosial masih terpatri dalam sanubari bangsa. Karena Bangsa Indonesia tidak dapat terlepas dari Pancasila, seperti yang disebutkan oleh salah satu negarawan : “setiap jengkal gen (pembawa sifat)  manusia indonesia itu memiliki kode gen (bagian gen) Pancasila “ ( Yudi Latif ).

MERDEKA!

HIDUP MAHASISWA!

HIDUP RAKYAT INDONESIA!