Diskusi publik 21 Mei 2023
Refleksi 25 tahun Reformasi, Yakin Orde Baru tumbang atau Berevolusi Dengan Bentuk Baru?
Denpasar, 21 Mei 2023 | Beranda Mahasiswa bertajuk “Refleksi 25 tahun Reformasi: Bebas eh Bablas” diselenggarakan BEM PM Universitas Udayana dan BEM FH Universitas Udayana, dalam rangka memperingati Hari Reformasi sebagai upaya mengukuhkan semangat generasi muda yang kian hari makin lapuk dilahap oleh waktu.
Peringatan hari reformasi mengacu pada peristiwa Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia yang telah menjabat pada masa Orde Baru. Menjadi rahasia umum bahwasanya pada masa itu praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tumbuh merambat dan subur. Kasus-kasus korupsi tidak pernah mendapat penyelesaian hukum secara adil, seakan beliau mengangkangi konstitusi. Banyak terjadi penyimpangan terhadap nilai-nilai pancasila dan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam UUD 1945 yang merugikan rakyat kecil.
Demokrasi Indonesia saat ini dihadapkan dengan kokohnya kekuatan Neoliberalisme, dan bangkitnya kembali Militerisme, serta Fundamentalisme Agama. Kami menolak lupa akan tragedi dan pelakunya, bila kita menilik serta mengingat-ngingat kembali pada agenda-agenda reformasi yang digaungkan di tahun 1998, maka kita tidak bisa denial bahwasanya tidak satupun agenda itu dapat dilaksanakan secara konsisten oleh rezim-rezim orde reformasi. Hal ini dibuktikan dengan ketidaktuntasan kasus pelanggaran HAM berat hingga saat ini; pelaku korupsi yang seakan beranak-pinak, ICW mencatat pada 2022 setidaknya terdapat 252 kasus korupsi dengan 612 orang diantaranya ditetapkan sebagai tersangka dan potensi kerugian negaranya mencapai Rp33,6 Triliun.
Berangkat dari itu dalam rangka memperingati Hari Reformasi, tonggak sejarah penting dalam sejarah bangsa kita, maka kami menyelenggarakan forum diskusi publik untuk mendorong partisipasi aktif mahasiswa dan masyarakat umum untuk membangun semangat dialog terbuka dan meningkatkan kepedulian terhadap sekitar. Acara ini bertujuan untuk menyediakan wadah bagi individu untuk menyampaikan pendapat, berbagi ide, dan berkontribusi pada proses reformasi yang sedang berlangsung dalam masyarakat Selain itu acara ini menjadi ajang mengukuhkan ikatan antar kolektif sehingga apa yang menjadi tujuan bersama bisa tercapai.
Forum diskusi berlangsung pada Minggu, 21 Mei 2023 di RTH Universitas Udayana, dihadiri oleh ratusan mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, aktivis, dan masyarakat umum yang peduli. Acara ini terbuka untuk umum, yang dimana beranda mahasiswa ini dihiasi oleh diskusi publik dengan format talkshow yang menghadirkan narasumber, diantaranya Jatmiko Wiwoho (simpul PENA 98, eksponen gerakan mahasiswa Bali 1990-an), Efatha Filemeno Booromeo, S,IP., M.Sos. (dosen FISIP Unud) dan Bima Kumara Dwi Atmaja, S.H.,M.H. (dosen Fakultas Hukum Unud).
Beberapa tema utama yang dibahas dalam forum diskusi meliputi:
Meningkatkan pengalaman dari cerita reformasi: Menjelajahi cara-cara untuk memperkuat proses demokrasi, mempromosikan transparansi, dan memastikan akuntabilitas dalam masyarakat kita.
Keadilan sosial dan kesetaraan: Mempelajari strategi untuk mengatasi kesenjangan sosial, mempromosikan kesempatan yang setara, dan mendorong inklusivitas bagi semua anggota masyarakat kita.
Hak asasi manusia dan supremasi hukum: Menyoroti pentingnya perlindungan hak asasi manusia, menjunjung tinggi supremasi hukum, dan mempromosikan masyarakat yang adil dan berkeadilan.
Politik Identitas: Menyampaikan hal-hal negatif mengenai politik identitas demi mempersatukan persepsi persatuan dalam kewarganegaraan, sehingga individu mampu menyeleksi politik-politik sehat dalam dunia sosial.
Forum diskusi ini pada akhirnya menyediakan platform bagi peserta dan narasumber untuk bertukar ide, menyiapkan opsi solusi dalam menghadapi tantangan pada masa kini, dan terlibat dalam dialog yang konstruktif. Acara ini akan menjadi tonggak munculnya gerakan kolektif dan menginspirasi individu untuk berkontribusi pada upaya reformasi yang sedang berlangsung dalam masyarakat kita.
Dalam Diskusi, Bapak Jatmiko Wiwoho sempat bercerita bahwa dulu pada masa orde baru sangat tidak diperbolehkan untuk berkumpul. Tentunya rencana aksi dirancang secara detail. Beliau pun menambahkan bahwa setiap masa itu punya tantangannya masing-masing. Pada masa mereka itu waktu NKK/BKK, dimana semua yang dilakukan oleh mahasiswa harus disetujui oleh kampus, yang berarti tantangannya adalah Represi.
Pak efata pun saat itu sebagai pembicara juga menyampaikan terkait perbedaan politik identitas pada masa orde baru berbeda dengan saat ini. Waktu orde baru, politik identitas dilakukan untuk membendung suara rakyat terhadap negara sedangkan era sekarang itu lebih dijadikan alat politik kampanye.
Beranda mahasiswa juga tak luput dihiasi oleh stand up comedy yang menjadi wadah mengungkapkan kritik terhadap pemerintah dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, tentunya tidak melupakan etika dalam berbicara. Selain itu kami juga menyediakan pameran koleksi foto dari kawan-kawan Pena 98.
Kami mengharapkan dengan diadakan kegiatan ini bukan hanya menjadi acara seremonial belaka tetapi sebagai bentuk refleksi guna merawat ingatan untuk tetap membawa semangat reformasi seutuhnya, pun dalam peringatan 25 tahun reformasi ini, kami BEM PM UNIVERSITAS UDAYANA bersama BEM FH UNIVERSITAS UDAYANA juga seluruh mahasiswa berharap besar kepada pemerintah untuk segera menyelamatkan demokrasi dari ancaman militerisme dan neoliberalisme, Tuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, Tolak keterlibatan TNI dalam kegiatan sosial politik rakyat, dan Bangun kekuatan politik alternatif untuk Indonesia berkeadilan.


UNIVERSITAS UDAYANA